DOA
(Mzm. 142:2-5), (1 Sam. 22:2)
Sorry, Salah Sambung . . .
Secanggih-canggihnya sistem telepon, salah sambung masih dapat terjadi, kalau penelepon menekan nomor yang keliru. Karena itu ucapan: “Sorry, salah sambung”, adalah bagian yang boleh dianggap wajar dalam dunia telekomunikasi. Dalam kehidupan doa, agaknya, orang pun dapat merasa salah sambung. Mintanya ini, dapat itu.
Ketika Daud berada dalam pelarian karena ancaman Saul, ia bersembunyi seorang diri di gua dan di hutan. Dapat dimengerti bahwa Daud merasa sepi, cemas dan tak menentu.
Dalam doanya ia berkata,
“Dengan nyaring aku berseru-seru kepada Tuhan, dengan nyaring aku memohon kepada Tuhan. Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya. Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus ku tempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku” (Mzm. 142:2-4).
Selanjutnya ia mengeluh, “Tidak ada seorang pun yang menghiraukan aku, tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak ada seorang pun yang mencari aku” (Mzm. 142:5). Jadi, ia meminta Tuhan mengirimkan orang-orang yang dapat memberi perhatian kepadanya.
Apa yang kemudian terjadi? Banyak orang datang kepadanya. Tetapi mereka bukanlah orang-orang yang dapat memberi perhatian. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang membutuhkan perhatian. Mereka adalah orang-orang yang justru berada dalam kesukaran. Mereka datang meminta pertolongan Daud (1 Sam. 22:2).
Dapat dibayangkan bahwa Daud menjadi heran. la berpikir, Tuhan salah kirim. la minta didatangi orang-orang yang dapat memberi perhatian kepadanya. Tetapi yang Tuhan kirim malah sebaliknya. Daud seakan-akan berkata, “Ini salah sambung.”
Apakah itu benar salah sambung? Sebenarnya tidak. Tuhan sengaja mengirimkan orang-orang yang sedang dalam kesukaran kepada Daud, supaya Daud menjadi sibuk menolong mereka.
Dan benar saja, Daud menjadi sibuk. Karena ia sibuk, tidak ada lagi waktu baginya untuk melamun, mengeluh dan meratapi nasibnya. Dalam kesibukannya menolong, ia melihat kembali misi hidupnya.
Dalam doa, manusia meminta kepada Tuhan. Namun, cara Tuhan mengabulkan permintaan itu tidaklah selalu sesuai dengan apa yang kita bayangkan. Sehingga mungkin kita mengira telah terjadi salah sambung.
Di dalam kebebasan-Nya, Tuhan dapat saja mengabulkan doa dengan cara yang sama sekali berbeda. Bahkan mungkin dengan cara yang bertentangan. Pada waktu kita meminta kesembuhan, mungkin yang Tuhan berikan adalah kekuatan menghadapi kenyataan bahwa kita harus hidup dengan mengidap penyakit itu. Pada waktu kita meminta sesuatu, mungkin Tuhan membuka kesempatan supaya kita malah menyumbangkan sesuatu.
Dengan demikian, yang Tuhan berikan itu adalah justru apa yang kita butuhkan. Walaupun bukan itu yang kita inginkan, tetapi itulah kebutuhan kita yang sesungguhnya. Antara apa yang kita inginkan dengan apa yang kita perlukan boleh jadi ada perbedaan yang besar. Dalam hubungan inilah kita dapat belajar memahami ucapan Yesus: “”Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” (Mat. 6:8). (FS)