MENGENAL DIRI SENDIRI
Kejadian 1:26-27
Di Yunani Kuno ada seorang filsuf bernama Socrates, dia memiliki suatu semboyan dalam ajarannya yang kita kenal “gnōthi seauton” (kenali dirimu sendiri). Bagi Socrates mengenal diri sendiri itu sangat penting kenapa? Karena dengan memahami diri, manusia tahu siapa dirinya sesungguhnya. Manusia akan mengenal darimana ia berasal, untuk apa dia hidup di dunia, siapa yang menciptakan hidupnya dan untuk siapa dia hidup? Kalau manusia mengerti semuanya, manusia akan hidup tertib dan menghomati hidupnya sebagai ciptaan Allah.
Maka untuk itu, melalui pembacaan firman Tuhan hari ini, Alkitab memberitahukan kepada kita tentang siapakah diri kita yang sebenarnya dan darimanakah kehidupan kita. Dalam kejadian 1:26-28 Alkitab dengan jujur memberitahukan kepada kita bahwa manusia itu berasal dari Allah sendiri. Melalui hal ini, kita tahu bahwa dalam kehidupan manusia ada keterlibatan Allah. Keberadaan manusia ke dalam dunia disebabkan oleh Allah dan di dalam hidup manusia seharusnya Allah-lah yang berkuasa, kenapa? karena kita lahir dari.
Untuk mengenal diri kita, disini ada beberapa tahapan dalam penciptaan manusia
- Allah menjadikan manusia dari debu tanah
Di ayat 26 dikatakan: “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Setelah Allah menyelesai ciptaan sebelumnya, sekarang Allah menciptakan manusia, menciptakan manusia berbeda dengan cara menciptakan makhluk lainnya. Allah tidak menciptakan manusia dengan firman, tetapi menggunakan materi. Dalam ayat 26 dikatakan berfimanlah Allah: Baiklah kita “menjadikan” manusia itu menurut gambar dan rupa kita.
Kata “menjadikan” dalam ayat tersebut berasal dari bahasa Ibrani השׂע “asah” yang berarti “menjadikan” atau “membuat” dengan memakai bahan yaitu debu tanah, “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah” (Kej. 2:7a). Jadi tubuh manusia tercipta dari debut tanah. Dengan menjadikanya manusia dari debu tanah, ini menandakan bahwa manusia tidak memiliki kekuatan dan kuasa untuk menikmati seluruh yang ada di bumi ini tanpa Allah. Jadi manusia ada di dalam dunia adalah hasil dari karya tangan Allah sendiri. Maka itu dalam seluruh kehidupan, manusia harus bergantung kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai objek hidupnya
- Manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah
Ayat 26 dikatakan, “Berfirmanlah Allah: baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita.” Gambar dalam Bahasa Ibraninya menggunakan kata “tselem” yang
artinya image (gambar, patung, kesan, bayang bayang), likeness (persamaan. Penggunaan tselem dalam PL menjelaskan tentang gambar dalam konsep penciptaan gambar yang dilahirkan manusia. Jadi ketika kata “tselem” diaplikasikan pada penciptaan manusia maka ini mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah, manusia merupakan suatu representasi Allah. Sementara Rupa menggunakan kata “demut.” Dalam PL “demut.” menjelaskan tentang rupa dalam konsep ciptaan (Kej. 1:26; 5:1), gambar yang mirip dengan asli, (Mzr. 58:5), seperti yang menyatakan penggambaran. Bahkan kalau kita melihat di dalam (Yes. 13:4), “tselem” ini dapat dikatakan: serupa yang menyatakan perbandingan yang tidak sama (Yes. 40:18), menyerupai yang menyatakan kemiripan, atau nampaknya/seperti. Dengan ini dapat dikatakan bahwa damuwth yang ada dalam Kejadian 1:26 mengidentifikasikan bahwa gambar tersebut juga merupakan keserupaan, “gambar yang menyerupai Kita.”
Dalam hal apa kita segambar dan serupa dengan Allah? Kalau kita melihat di dalam kejadian 1:26b disini dikatakan: supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala Binatang melata yang merayap di bumi. Ini adalah contoh sederhana bahwa Allah memberikan kekuasaan kepada manusia agar manusia menjadi serupa dengan Allah, dalam hal memiliki kekuasaan atas bumi. Jadi kita sama-sama punya kuasa hanya perbedaannya, Tuhan yang memberikan kuasa, kita menerima kuasa, Tuhan pencipta kita ciptaan.
- Jiwa manusia lahir dari Allah sendiri
Setelah Allah membentuk manusia itu menurut gambar dan rupa-Nya, maka manusia tersebut perlu dihidupkan, maka dalam ayat 27 “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya laki-laki dan Perempuan diciptakan-Nya mereka.” kata menciptakan disini, menggunakan kata ארב “bara” yang berarti “menciptakan” dengan tidak memakai bahan. Kata tersebut mengacu kepada jiwa manusia yang diciptakan Allah tanpa memakai bahan melainkan Allah langsung menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kej. 2:7b).
Jadi dari penjelasan di atas, maka dapat kita katakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk ciptaan Allah yang paling special dan istimewa, karena Allah menciptakan manusia secara langsung, Allah membentuk manusia itu dengan memakai tangan Allah sendiri (Kej.2:7) “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”
Dengan ini, manusia tidak sama halnya dengan penciptaan makhluk lainnya, Allah menciptakan makhluk lainnya hanya dengan berfirman tanpa Allah membentuk langsung. Allah juga memberikan kuasa kepada manusia atas mahkluk ciptaan yang lain (Kej. 1:26,28), ini juga merupakan salah satu bukti bahwa manusia itu berbeda dari makhluk ciptaan yang lainnya. Hal yang paling membedakan manusia dengan makhluk ciptaan yang lainnya ialah manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Ada tiga tahapan dalam penciptaan manusia, Allah membentuk manusia dari debu tanah, menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya dan setelah itu Allah menghembuskan napas hidup agar menjadi makhluk hidup (Kej. 2:7), yang hasilnya adalah tunggal, yaitu manusia yang berupa satu kesatuan. Tanah adalah bahan kebendaan, gambar dan rupa serta napas Allah yang memberi hidup. Jika manusia mengenal dirinya sebagai ciptaan sang Ilahi, maka manusia akan mempergunakan hidupnya untuk guna hormat bagi nama Tuhan. (OB)
